Tampilkan postingan dengan label artikel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label artikel. Tampilkan semua postingan

Minggu, 19 Maret 2017

Resume Rayap - Rayap Amal


Berusaha mencoba untuk meresume kajian Ust. Oemar Mita dengan tema Rayap-Rayap Amal. Semoga bermanfaat.

Rayap - rayap amal.

Dalam upaya menetapkan iman dalam hati, kita belumlah beriman sampai Allah dan rassulnya lebih dicintai ketimbang diri kita. Sabda rasulullah yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim, dari Anas bin Malik: ''Tidak beriman kamu sebelum Allah dan Rasul-Nya lebih kamu cintai dari siapa pun selain mereka.

Dan ketika mencintai sesuatu, maka kita tidak hanya diminta untuk mencintai apa-apa yang dcintainya melainkan juga harus tau dan juga membenci apa-apa yang dibenci olehnya. Begitu juga ketika kita menyatakan bahwa diri kita mencintai Allah, konsekuensinya adalah kita tidak hanya mencintai apa-apa yang Allah cintai, juga kita haus membenci apa-apa yang Allah benci. Ada kaidah “tak kenal maka tak sayang”, maka dalam bahasan kali ini kaidahnya adalah “tak kenal maka tak benci”.

Kita mempelajari hal ini untuk menyadari bahwa hal-hal ini wajib kita benci dan kita jauhi. Syariat mengajarkan bahwa taat kepada Allah itu semampunya (fattaqullaha mastatho’tum), namun dalam meninggalkan kebathilan ataupun hal-hal yang Allah benci itu harus 100% karena kata mastatho’tum tidak pernah mengiringi dalam perintah meninggalkan kebathilan.

Ternyata dalam kenyataan nya energi yang dikeluarkan untuk membenci itu jauh lebih besar daripada energi yang dikeluarkan untuk mencintai. Karenanya kita dapati banyak orang yang berhasil dalam mencintai apa-apa yang Allah cintai, namun banyak yang gagal dalam membenci apa-apa yang Allah benci.





Jangan Lupa Komennya ya..!!! ^^

Jumat, 12 Juli 2013

Pejuang-Pejuang Al-Haq yang Berakhir Tragis


By: Nandang Burhanudin

Syahadat On The Road - Sejarah yang terus berulang. Perguluman Al-Haq dan Al-Bathil, tak pernah berhenti dan tak berganti. Yang berubah hanya pelaku. Substansi sama.

Tak satu pun pemimpin Muslim yang berhasil menjadi top leader di suatu negara, lalu ia berusaha melakukan reformasi sejati dan perbaikan substansial, melainkan ia akan dihadapkan pada Kudeta-Penjara-hingga pembunuhan.

Sejarah telah mencatat nama-nama yang hingga kini melegenda:




Jangan Lupa Komennya ya..!!! ^^

Apa Sih ISLAM??

Syahadat On The Road - Seumur hidup, kita mungkin sudah memeluk agama Islam. Tapi ketika kita ditanya tentang apa itu Islam, mungkin kita juga agak sulit mendefinisikannya. Jawabannya mungkin, Islam ya Islam, agama yang kita anut.

Islam adalah agama yang mengimani satu Tuhan, yaitu Allah. Dengan lebih dari satu seperempat miliar orang pengikut di seluruh dunia menjadikan Islam sebagai agama terbesar kedua di dunia setelah agama Kristen. Islam memiliki arti “penyerahan”, atau penyerahan diri sepenuhnya kepada Allāh).

Pengikut ajaran Islam dikenal dengan sebutan Muslim yang berarti “seorang yang tunduk kepada Allah”, atau lebih lengkapnya adalah Muslimin bagi laki-laki dan Muslimat bagi perempuan. Islam mengajarkan bahwa Allah menurunkan firman-Nya kepada manusia melalui para nabi dan rasul utusan-Nya, dan meyakini dengan sungguh-sungguh bahwa Muhammad adalah nabi dan rasul terakhir yang diutus ke dunia oleh Allah.





Jangan Lupa Komennya ya..!!! ^^

Selasa, 19 Maret 2013

Lamaran ‘Ali bin Abi Thalib

Syahadat on the road - Pemuda itu hanya termangu diam disamping pohon kurma ditepi padang pasir di kota madinah. Betapa hatinya tergoncang manakala dia tahu bahwa wanita itu akan dipersunting oleh sahabat seniornya sendiri yang bernama Abu Bakar. Seorang sahabat yang tidak diragukan lagi kesetiaannya pada rasul. Sahabat senior yang menemani rasul saat berhijrah dan pria soleh itu pula yang menyumbangkan seluruh hartanya untuk Islam ini tanpa sisa sedikitpun.

Ia mencoba untuk tetap tersenyum. Sejak dari dulu seharusnya ia sadar harus menepis apa yang dirasakannya itu, cukuplah hanya sebatas kagum kepada wanita ahli surga yang juga putri dari orang yang sangat dikasihinya. Akhirnya ia putuskan untuk menyimpan didalam hatinya saja. Cukup dia dan Allah yang tahu. Apalagi sekarang sudah ada Abu Bakar, sekarangpun ia bisa tenang karena ada lelaki yang lebih siap dan lebih baik darinya yang meminang bidadari dunia itu.

Dialah Ali Bin Abi Thalib. Seorang pemuda yang cerdas dan bahkan Nabi pun memuji karena kecerdasannya itu sendiri. Butiran pasir terus beterbangan dengan indahnya dipadang pasir tempat pemuda itu merenung.





Jangan Lupa Komennya ya..!!! ^^

Sabtu, 02 Februari 2013

Indahnya Balas Dendem..

Syahadat on the road - Balas dendam ketika anda mampu melakukannya sungguh terasa memuaskan hati. kata orang jawa :" mareeem".
 
Namun tahukah anda bahwa memaafkan ketika anda mampu membalas adalah bukti kebesaran jiwa anda. Hanya orang2 bes
arlah yg mampu memaafkan dan bahkan tersenyum ketika ia mampu membalas namun ia tidak melakukannya.

 
Suatu hari ada seorang yahudi yg datang dan mengumpat nabi dengan berkata:
السام عليك
(Semoga kebinasaan menimpamu.)






Jangan Lupa Komennya ya..!!! ^^

Minggu, 27 Januari 2013

Indahnya Hidup, Penuh dengan Pahala


الأعمال بالنيات = الأمور بمقاصدها
[1] Dalam redaksi lain  (في كل أمره), ini menunjukkan bahwa diantara makna kata (الأمر) adalah (الشيء), sebagaimana dijelaskan oleh pengarang kitab Dusturul Ulama’ (1/128), wallohu a’lam.
Semua Amalan Tergantung Pada Niatnya

Mukadimah:
Kaidah ini menunjukkan betapa besarnya perhatian Islam terhadap masalah hati dan niat, mengapa demikian? Karena hati adalah kunci utama amalan kita, dan niat adalah ruh penggerak jasad kita. Kita hanya akan mendapat pahala ketika kita niatkan amalan itu karena Alloh, sebagaimana sabda Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam-:

عن سعد بن أبي وقاص قال، قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: المؤمن يؤجر في كل شيء،[1] حتى في اللقمة يرفعها إلى في 
امرأته. (رواه أحمد وغيره وقال الأرناؤوط إسناده حسن)ـ

Seorang mukmin bisa mendapat pahala dari segala sesuatu (dengan niat yg baik), hingga suapan yang ia masukkan ke mulut istrinya. (HR. Ahmad dan yang lainnya, dihasankan oleh Al-Arna’uth)
Dengan niat yang baik, amalan yang sederhana bisa menghasilkan pahala yang agung. Tidak asing bagi kita, kenapa sahabat Abu Bakar mengungguli sahabat-sahabat yang lainnya? Seorang tabi’in, Bakr ibnu Abdillah al-Muzaniy mengatakan:

إن أبا بكر رضي الله عنه لم يفضل الناس بكثرة صلاة، إنما فضلكم بشيء كان في قلبه (صحيح موقوف على بكر بن عبد الله المزني)ـ

Sungguh! tidaklah Abu Bakar itu mengungguli orang-orang dengan banyaknya amalan sholatnya, tapi beliau mengungguli kalian itu dengan apa yang ada di hatinya.

Sebaliknya karena niat yang salah, amalan yang besar sekalipun, bisa jadi hanya seperti debu yang beterbangan. sebagaimana firman Alloh swt:

وقدمنا إلى ما عملوا من عمل فجعلناه هباء منثورا

(Ingatlah pada hari kiamat nanti) akan kami perlihatkan segala amal yang mereka kerjakan, lalu kami jadikan amal itu bagaikan debu yang beterbangan.

Terlalu banyak ayat maupun hadits yang menunjukkan betapa pentingnya kita memperhatikan hati dan niat kita, sebagai misal saja:

وما أمروا إلا ليعبدوا الله مخلصين له الدين (وكل آية في قرن العبادة أو الدعاء بالإخلاص فإنها دليل على هذه القاعدة)ـ

Alloh berfirman: “Mereka tidak diperintah, melainkan untuk menyembah Alloh dengan ikhlas semata-mata karena menjalankan agama-Nya” (Al-Bayyinah:5)… (Semua ayat yang menggabungkan ibadah atau doa dengan ikhlas, bisa menjadi dalil untuk kaidah ini).

وعن أبي هريرة قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: “إن الله لا ينظر إلى أجسادكم، ولا إلى صوركم، ولكن ينظر إلى قلوبكم” (رواه مسلم)ـ

Rosul -shollallohu alaihi wasallam- bersabda: “sesungguhnya Alloh tidak melihat jasad dan rupa kalian, tapi yang Dia lihat adalah hati kalian” (HR. Muslim)

إِنَّمَا الدُّنْيَا لِأَرْبَعَةِ نَفَرٍ: عَبْدٍ رَزَقَهُ اللَّهُ مَالًا وَعِلْمًا، فَهُوَ يَتَّقِي فِيهِ رَبَّهُ، وَيَصِلُ فِيهِ رَحِمَهُ، وَيَعْلَمُ لِلَّهِ فِيهِ حَقًّا، فَهَذَا بِأَفْضَلِ الْمَنَازِلِ. وَعَبْدٍ رَزَقَهُ اللَّهُ عِلْمًا وَلَمْ يَرْزُقْهُ مَالًا، فَهُوَ صَادِقُ النِّيَّةِ، يَقُولُ: لَوْ أَنَّ لِي مَالًا لَعَمِلْتُ بِعَمَلِ فُلَانٍ فَهُوَ بِنِيَّتِهِ فَأَجْرُهُمَا سَوَاءٌ وَعَبْدٍ رَزَقَهُ اللَّهُ مَالًا وَلَمْ يَرْزُقْهُ عِلْمًا فَهُوَ يَخْبِطُ فِي مَالِهِ بِغَيْرِ عِلْمٍ لَا يَتَّقِي فِيهِ رَبَّهُ وَلَا يَصِلُ فِيهِ رَحِمَهُ وَلَا يَعْلَمُ لِلَّهِ فِيهِ حَقًّا فَهَذَا بِأَخْبَثِ الْمَنَازِلِ وَعَبْدٍ لَمْ يَرْزُقْهُ اللَّهُ مَالًا وَلَا عِلْمًا فَهُوَ يَقُولُ لَوْ أَنَّ لِي مَالًا لَعَمِلْتُ فِيهِ بِعَمَلِ فُلَانٍ فَهُوَ بِنِيَّتِهِ فَوِزْرُهُمَا سَوَاءٌ (رواه الترمذي وقال هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ، وصححه الألباني)ـ

Rosul -shollallohu alaihi wasallam- bersabda: “Dunia ini, hanya untuk empat orang: (1) Hamba yang Alloh beri harta dan ilmu, lalu dengannya ia bertakwa pada Tuhannya, menyambung tali silaturahim, dan menunaikan hak Alloh pada hartanya (zakat), maka orang seperti ini berada di posisi paling tinggi. (2) Hamba yang Alloh beri Ilmu tanpa harta, akan tetapi ia baik niatnya, ia berkata: ‘Seandainya aku punya harta, tentu aku beramal seperti amal baiknya si fulan (yang kaya)’, maka orang seperti ini dapat pahala sebagaimana niatnya, sehingga kedua orang ini pahalanya sama. (3) Hamba yang Alloh beri harta tanpa ilmu, lalu ia sembrono dalam menggunakan hartanya tanpa dasar ilmu, sehingga ia tidak bertakwa pada tuhannya dalam menggunakannya, tidak menyambung tali silaturrohim, dan tidak menunaikan hak Alloh pada hartanya (zakat), maka orang seperti ini berada di posisi paling buruk (bawah). (4) dan Hamba yang tidak diberi harta dan ilmu, (serta buruk niatnya), ia mengatakan: ‘Seandainya aku punya harta, tentu aku akan gunakan sebagaiman si fulan menggunakannya’, maka orang seperti ini menuai dosa karena niatnya, sehingga kedua orang ini dosanya sama”. (HR. Tirmidzi, ia mengatakan: Hasan Shohih, dishohihkan pula oleh Albani).

Ini merupakan kaidah yang sangat agung, ia masuk dalam separoh syariat Islam, mengapa demikian? Karena syariat Islam terbagi menjadi dua: Syariat yang mengatur amalan lahiriyah, dan syariat yang mengatur amalan batiniyah, dan kaidah ini sebagai pengatur amalan batiniyah, yaitu niat.

Para Ulama salaf mengetahui benar hal ini, oleh karenanya mereka sangat serius dalam memperbaiki niatnya. Renungkanlah atsar-atsar berikut ini:
  • Yahya ibnu Katsir: (تعلّموا النية، فإنه أبلغُ من العمل) pelajarilah masalah niat, karena itu lebih penting daripada amalan.

  • Zabid al-Yami: (إني لأُحِبُّ أن تكون لي نيةٌ في كل شيءٍ حتى في الطعام والشراب) sungguh aku senang, untuk meniatkan segala sesuatunya (untuk ibadah), meskipun dalam hal makan dan minum.

  • Dawud at-Tho’i: (رأيت الخيرَ كلَّه، إنما يجمعُه حسنُ النية) aku melihat, segala kebaikan hanya terkumpul dalam niat yang baik.

  • Sufyan at-Tsauriy: (ما عالَجْتُ شيئاً أشدَّ عليّ من نيّتِي، لأنها تتقلَّبُ عليّ) tidak ada yang lebih berat bagiku melebihi beratnya mengobati niatku, karena ia selalu berubah-rubah dalam diriku.

  • Yusuf bin Asbath: (تخليصُ النية من فسادها أشدُّ على العالِمين من طول الاجتهاد) membersihkan niat dari kotoran, lebih berat daripada istiqomah dalam amal ibadah.

  • Muthorrif ibnu Abdillah: (صلاحُ القلبِ بصلاحِ العمل, وصلاحُ العمل بصلاح النية) hati yang baik adalah karena amal yang baik, dan amal yang baik adalah karena niat yang baik.

  • Abdulloh bin Mubarok: (رُبَّ عملٍ صغيرٍ تُعَظِّمه النية, ورُبَّ عملٍ كبيرٍ تُصَغِّرُه النية) betapa banyak amalan yang sepele menjadi besar karena niatnya, sebaliknya betapa banyak amalan yang besar menjadi kecil karena niatnya.

  • Ibnu ’Ajlan: (لا يصلح العملُ إلا بثلاث: التقوى لِلّه, والنيةُ الحسنة, والإصابةُ) Amal tidak akan menjadi baik kecuali dengan tiga syarat: takwa, niat yang baik dan benar dalam melakukannya.

  • Fudhoil bin ’Iyadh: (إنما يريد الله منك نيتك وإرادتك) Sesungguhnya yang Alloh inginkan darimu adalah niat dan tujuanmu.

  • Beliau juga mengatakan:
(إن العملَ إذا كان خالصاً ولم يكن صواباً لم يُقْبَل, وإذا كان صوابا ولم يكن خالصا، لم يُقْبَل حتى يكون خالصا صوابا)

Sesungguhnya amal yang ikhlas tapi tidak benar, ia tidak akan diterima, begitu pula ketika amal itu benar tapi tidak ikhlas… Ia tidak akan diterima hingga menjadi amal yang ikhlas dan benar. (Ikhlas jika dilakukan karena Alloh, dan benar jika dilakukan sesuai tuntunan).

Begitulah para salafus sholeh, mereka tidak berkata dan bertindak kecuali setelah menghadirkan niat yang baik, sehingga menjadi berkah ucapan, perbuatan dan umur mereka. Mereka menjadi teladan dalam amalannya, karena mereka lebih dulu menjadi teladan dalam memperbaiki niatnya. Sungguh mereka tidak asal-asalan dalam beramal, tapi amal mereka muncul dari hati yang bersih, suci, dipenuhi iman, takwa dan rasa takut pada Alloh ta’ala, dan tentunya amal mereka itu muncul dari pemahaman yang mendalam tentang kitab dan sunnah.

Itulah yang membuat mereka beda dengan kita, padahal puasa mereka sepintas sama seperti puasa kita, begitu pula sholatnya, sama seperti sholat kita, hanya saja niat dan tujuan yang jelas jauh berbeda.

Oleh karena itu, hendaklah kita benar-benar memperhatikan masalah niat ini, Pahala niat sangat agung, begitu bahanyanya sangat besar. Amal kita ibarat jasad, sedangkan niat adalah nyawanya, dan tiada guna jasad tanpa ada nyawa. Amal kita juga ibarat pohon, sedangkan niat adalah akarnya, dan pohon tidak akan tumbuh dengan baik tanpa akar yang kokoh.

Itulah sebabnya kita merasa berat dalam melakukan ibadah, mengapa? Karena kita tidak menghadirkan niat yang tulus dalam beribadah. Wallohul musta’an.

Nash-nash diatas, secara tidak langsung, juga menunjukkan pentingnya kita mempelajari kaidah pertama ini: “segala sesuatu tergantung pada tujuannya”.


Dari manakah para ulama menyimpulkan kaidah ini?
Dari banyak nash-nash syar’i, baik dari Alqur’an maupun Sunnah… Dan nash yang paling mirip dengan bunyi kaidah ini adalah hadits yang sangat masyhur, yang diriwayatkan oleh sahabat Umar bin Khottob ـ: (قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: إنما الأعمال بالنيات)ـ semua amalan itu tergantung niatnya.
Bahkan sebagian ulama mengatakan, bahwa Lafal hadits ini lebih baik dan lebih mengena dibandingkan lafal kaidah tersebut, sebagaimana dikemukakan oleh Ibnus Subkiy dalam kitabnya al-Asybah wan Nadho’ir (1/54).

Apa arti kaidah ini?
(الأمور) adalah bentuk jamak (plural) dari kata (الأمر) dan makna kata tersebut dalam bahasa arab banyak, diantaranya: perintah, keadaan, sesuatu, perbuatan. Dan yang dimaksud (الأمر) dalam lafal kaidah ini adalah: (الفعل والعمل)[2] yaitu perbuatan, dan ia mencakup perbuatan lisan dan anggota badan lainnya.
(مقاصد) adalah bentuk plural (jamak) dari kata (مقصد) yang berarti (النية),[3] dan definisi niat adalah: dorongan hati untuk melakukan sesuatu yang dikehendakinya.
Dari keterangan ini, kita dapat mengambil kesimpulan, bahwa arti dari kaidah ini, dilihat dari susunan katanya adalah: Semua amalan itu tergantung niatnya, dan makna ini sama persis dengan makna lafal hadits (الأعمال بالنيات). Karena maknanya sama, maka penggunaan lafal nabawi (الأعمال بالنيات), lebih utama ketimbang menggunakan lafal non nabawi, seperti (الأمور بمقاصدها), wallohu a’lam.
Maksud kaidah ini adalah, bahwa semua amalan seseorang, (baik ucapan maupun perbuatan, baik amalan duniawi maupun ukhrowi), akan berbeda hasil dan hukumnya, sesuai dengan maksud dan tujuan orang yang melakukannya.




Jangan Lupa Komennya ya..!!! ^^

Sabtu, 12 Januari 2013

Tadabur Surat Al-Isra

Oleh : Ustadz Muhammad Jamhuri, Lc.
 
“Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui “ (QS. Al-Israa: 1)

Syahadat on the road -  Mengapa Allah  swt memulai ayat  ini dengan kata “subhanalladzi” (Maha Suci Alllah) ? Jawabannya adalah agar kita menyikapi peristiwa Isra Mi’raj ini dengan pendekatan iman, bukan dengan pendekatan logika. Sebab, jika dengan pendekatan logika maka akan sulit dinalar oleh akal untuk suatu peristiwa Isra Mi’raj yang jaraknya jauh itu hanya dilakukan dalam waktu semalam saja.  Orang-orang Quraisy menempuh perjalanan Makkah-Jerussalem  biasa memakan waktu tidak kurang dari sepuluh hari.





Jangan Lupa Komennya ya..!!! ^^

Etika Bertetangga Dalam Islam


adab bertetanggaSyahadat on the road - Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an surat An-Nisa ayat 36 yang artinya : “Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapa, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri.”

Dalam ayat diatas sangat jelas sekali bahwa Allah SWT. memerintahkan kita untuk tidak menyekutukan-Nya dan berbuat baik terhadap orang-orang yang berada disekitar kita termasuk kepada tetangga. Selain itu dalam menghormati tetangga pun sudah dijelaskan dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh  Abu Hurairah yang artinya : “Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaknya ia mengatakan hanya hal yang baik atau diam. Dan barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaknya ia menghormati tetangganya. Dan barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaknya ia menghormati tamunya” (HR. Muslim)





Jangan Lupa Komennya ya..!!! ^^

Jumat, 11 Januari 2013

Berapa Nilai Diri Kita



Syahadat on the road - Beberapa pekan menjelang  musim haji tiba, riuh rendah kafilah dagang mulai berdatangan memenuhi sudut-sudut kota Mekah. Kain, pakaian serta bermacam perhiasan hingga wewangian memenuhi etalase-etalase toko dan swalayan. Dari kejauhan nampak seorang pembuat kain tenun berjalan menghampiri sebuah toko pakaian. Berharap kain yang telah ia tenun berbulan-bulan dapat ia tukar dengan beberapa puluh dinar atau dirham sebagai penghasilan.

Si pembuat kain sang pemilik toko, kemudian ia utarakan maksudnya, “Tuan, saya datang kemari untuk menawarkan kain yang sudah saya tenun ini.

Pemilik Toko melihat dengan seksama kain yang ditawarkan kepadanya. Untuk memastikan analisanya, ia pun bertanya pada si pembuat kain tenun. Berapa bulan waktu yang di butuhkan untuk membuat kain tersebut.




Jangan Lupa Komennya ya..!!! ^^

Rabu, 02 Januari 2013

Geliat Jaringan Islam Liberal Dari Waktu Ke Waktu (7-Habis)

Syahadat on the road - Liberalisme tidak akan subur tanpa ditopang kekuatan politik. Tampaknya kalimat itu pas untuk menggambarkan perjalanan liberalisme pemikiran Islam di Indonesia. Jika era Mukti Ali, Caknur, Harun Nasution, kelompok ‘pembaharu’ dibackup oleh kekuatan orde baru. Maka jejak sama ingin diikuti oleh Jaringan Islam Liberal (JIL). Ketika jalan pemikiran dirasa gagal untuk masuk ke akar rumput, maka JIL berusaha masuk ke lini politik.

Dalam launching Komunitas Epistemik Muslim Indonesia (KEMI) di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta 13 Desember 2011, Ulil meyakinkan khalayak bahwa sudah saatnya kelompok liberal masuk ke wilayah politik praktis. Ketua DPP Partai Demokrat itu  tampak bersemangat dengan menguraikan perubahan politik Islam yang merayakan euforia demokrasi di negara-negara Muslim,




Jangan Lupa Komennya ya..!!! ^^

Rihlah Tsaqofiyah: Dinasehati Ibnu Al-Jauzi



oleh : Muh. Nurfadli

Syahadat on the road - Menurutku, program wisata tak melulu harus dilakukan dengan pergi ke tempat-tempat rekreasi. Pantai, pegunungan, air terjun, taman  bermain, dan sebagainya. Tapi wisata dapat kita lakukan dengan fleksibelitas terhadap kebutuhan kita. Semua tergantung kebutuhan dan selera. Ada yang ingin berwisata ke gunung, karena basic dan pengalaman ke gunungnya sedikit, jadilah ia menyesal karena perjalanannya. Begitu juga dengan semuanya. Tergantung selera. Dan salah satu, alternatif rihlah / wisata yang mungkin dapat menjadi penenang jiwa dan penyegar fikiran adalah dengan ‘membaca buku’. Aneh memang, wisata kok dengan membaca buku. Tidak sepenuhnya aneh, kalau kita mau mengambil beberapa esensi rihlah itu sendiri. Saya namakan “Rihlah Tsaqofiyah”..^^




Jangan Lupa Komennya ya..!!! ^^

Senin, 31 Desember 2012

Geliat Jaringan Islam Liberal Dari Waktu Ke Waktu (6)

Syahadat on the road -Keluarnya fatwa haram Majelis Ulama Indonesia (MUI) tentang Sekularisme, Pluralisme, dan Liberalisme (Sepilis), pada tahun 2005 menjadi pukulan telak bagi Jaringan Islam Liberal (JIL). Eksistensi JIL lambat laun meredup pasca ulama di berbagai daerah ramai-ramai menyerang balik JIL. Bahkan pengamat Gerakan Yahhudi, Artawijaya menyatakan dana untuk JIL dari asing pun sempat dihentikan karena JIL dinilai gagal masuk ke dalam masjid-masjid untuk mengkampanyekan ide liberalisasi Islam.

Namun, dengan meredupnya JIL, bukan berarti gagasan liberalisme benar-benar mati. Tahun 2011, beberapa tokoh Jaringan Islam Liberal (JIL), memperkenalkan sebuah kelompok kajian baru di Jakarta. Mereka menamakan diri Komunitas Epistemik Muslim Indonesia (KEMI). Embrio KEMI sendiri berkembang sejak pertengahan 2010 dan makin tersistematisasi mulai awal Januari 2011.

“KEMI ingin memunculkan spirit bahwa umat Islam bisa berkembang. Bahwa Islam percaya kepada kebebasan berfikir dan toleran terhadap agama lain,” tandas Neng Dara Afifah saat peluncuran KEMI di Aula Student Centre UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.




Jangan Lupa Komennya ya..!!! ^^

Membangkitkan Budaya Literasi Umat Islam


oleh: Zulfadhli Nasution

Syahadat on the road - Sejarah telah mencatat kontribusi besar para ilmuwan muslim dalam memberikan pencerahan bagi peradaban dunia. Salah satu bukti yang dapat ditelusuri dan tidak bisa dielakkan lagi adalah melimpahnya kitab-kitab ilmuwan muslim dalam berbagai perpustakaan di titik-titik kekuasaan umat Islam seperti Baghdad, Kordoba, dan Mesir.

Terdapat 38 perpustakaan di Baghdad dan 70 di Kordoba. Perpustakaan Darul Hikmah yang didirikan di Baghdad oleh Khalifah Harun ar-Rasyid (149-193 H) setidaknya mempunyai 100 ribu jilid buku dan 600 buah manuskrip. Saking banyaknya, diceritakan bahwa sungai Euphrat menjadi hitam karena kitab-kitab itu dibakar saat Tentara Mongol menyerang Baghdad pada 656 H. Begitupula dengan Perpustakaan Kordoba yang dibangun pada masa al-Mushtansir (350-366 H), tercatat memiliki 600.000 koleksi jilid buku dan katalognya mencapai 44 buku.

Perpustakaan Sabor (383 H) di Baghdad yang didirikan oleh Sabor bin Ardashir, seorang menteri Ibnu Buwaih, menyimpan 1.000 mushaf al-Qur’an dan 10.400 buku dalam berbagai bidang. Di Baghdad, terdapat seratus buah toko buku dan jumlah ulama mencapai 8.000 orang. Perpustakaan Darul ‘Ilm di Mesir yang berdiri pada masa dinasti Fatimiyyin juga sempat menjadi kebanggaan kaum muslimin karena mempunyai koleksi kitab yang banyak dan langka, terdiri dari berbagai tema studi, sekaligus dilengkapi dengan sarana penelitian bagi para ilmuwan.




Jangan Lupa Komennya ya..!!! ^^

Minggu, 30 Desember 2012

Geliat Jaringan Islam Liberal Dari Waktu Ke Waktu (5)

Syahadat on the road - Kiprah Jaringan Islam Liberal (JIL) semakin terasa ketika mereka dalam tulisan atau seminar-seminarnya mulai gegap gempita. Tercatat mereka cukup sering memakai teater Utan Kayu sebagai tempat diskusi. Ketika kasus Ahmadiyah mencuat misalnya, di situs JIL terpampang diskusi Ahmadiyah yang melibatkan Zafrulloh Ahmad Pontoh (Juru Bicara Jemaat Ahmadiyah Indonesia) dan Abdul Moqsith Ghazali dari UIN Jakarta. Pada hari Kamis, 24 Februari 2011, Pukul 19.00-21.30.

Mereka juga pernah mengadakan Diskusi Buku The Grand Design karya Stephen Hawking & Leonard Mlodinow dengan judul diskusi: Tuhan Bukan Pencipta Alam Semesta? Ya sederetan diskusi itulah yang hingga kini terus diwarisi, bahkan tak jarang diskusi-diskusi di JIL menjadi ajang fitnah terhadap para Ulama Indonesia. Mereka membonceng nama besar Ulama Indonesia untuk menepis tuduhan bahwa ide liberalisme adalah barang baru dan tidak disetujui para ulama.




Jangan Lupa Komennya ya..!!! ^^

Penyebab Jatuh pada Lubang yang Sama

oleh : Muh. Nurfadli

Syahadat on the road - Kalo kita berfikir, kenapa orang jatuh pada lubang yang sama?? Setelah seseorang melakukan perbuatan salah ia pun akan menyadari kesalahannya (bagi yang melakukan evaluasi) namun tak lama dari itu atau dalam kurun waktu tertentu, ia mengulangi salah yang serupa. Perbuatan salah yang pada waktu sebelumnya pernah ia perbuat. Sama. Hanya cara jatuhnya saja yang berbeda. Dan waktu yang berbeda. Mengapa hal ini terjadi? 

Mungkin saja –saya pastikan- hal pernah menimpa diri kita. Jika hal serupa sering terjadi pada diri kita, maka berhati-hatilah. Karena itu bertanda diri kita terlalupenuh dengan sifat lalai. Terkait sifat ini, Allah SWT telah memberi sebuat steatment. Hal ini di sindir oleh Allah dengan bahasa yang tegas. Disebutkan “...Mereka itulah orang-orang yang lalai” (Al-A’raf : 179). Kenapa disebut lalai? Karena “...mereka memiliki hati, tapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka memiliki mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengarkan (ayat-ayat Allah). Mereka itu seperti hewan ternak, bahkan lebih sesat lagi..” (Al-A’raf:179).





Jangan Lupa Komennya ya..!!! ^^

Jumat, 28 Desember 2012

Geliat Jaringan Islam Liberal Dari Waktu Ke Waktu (4)


Anick HT
Nama Anick Hamim Tohari atau akrab disapa Anick HT mungkin masih terasa asing bagi sebagian kalangan. Namun sejatinya, laki-laki yang lahir di Pecangan Wetan ini adalah tokoh penting dibalik dinamika liberalisasi di JIL pada khususnya, maupun di Indonesia pada umumnya.

Anick HT memiliki track-record panjang dalam aktifitas liberalisasi Islam. Hal itu sudah dimulai saat ia aktif di Forum Mahasiswa Ciputat (Formaci) semasa kuliah di IAIN Jakarta. Anick HT sendiri melangkahkan kaki di IAIN Jakarta pertama kali pada tahun 1994. Ia tercatat sebagai mahasiswa jurusan Sastra Arab yang bernaung di Fakultas Adab.

Selain aktif di JIL, Anick juga menjabat Direktur Eksekutif Indonesian Conference Religion and Pluralisme (ICRP) sejak tahun 2008. ICRP adalah sebuah LSM berbentuk yayasan yang bergerak di bidang interfaith dialogue dan dialog antar agama.




Jangan Lupa Komennya ya..!!! ^^

ISLAM plus ...... (kritik tentang penambahan nama dalam kata Islam)

oleh: Muh. Nurfadli

Syahadat on the road - Perbedaan akan selama nya ada. Bahkan dalam persamaan sekalipun. Seorang yang kembar identik pun hakikatnya adalah berbeda.  Seseorang yang dalam satu aktifitas pun akan mengalami perbedaan. Hal ini lumrah terjadi pada kehidupan di dunia. Sejatinya perbedaan ini telah disinyalir oleh Allah dalam firmannya, “Hai manusia, Sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa - bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal” (Al-Hujurat : 13). Terciptanya laki-laki dan perempuan itu sebuah perbedaan. Begitu juga dengan adanya suku-suku dan bangsa-bangsa sendiri merupakan perbedaan yang harus kita terima. Hal ini adalah fitrah hidup dari Sang Maha Suci, Allah SWT.





Jangan Lupa Komennya ya..!!! ^^

Rabu, 26 Desember 2012

Mengetahui Posisi Diri Kita

oleh: Muh. Nurfadli

Syahadat on the road - Setiap kita pasti pernah berdialog dengan diri kita sendiri. Mungkin terjadi saat kita dihadapkan oleh dua pilihan yang sulit. Atau barangkali ketika kita telah melakukan sebuah tindakan yang itu kita sadari salah. Atau ketika kita duduk terdiam tak melakukan apapun, seringkali kita berdialog dengan diri kita sendiri tentang berbagai hal, tentang segalanya. Kita menempatkan diri kita sebagai penasihat dari diri kita sendiri.

Tentang hal ini, ada tiga kondisi kita menempatkan diri kita sendiri. Pertama, orang yang menjadikan dirinya tidak berharga.Kedua, orang yang menjadikan dirinya raja. Ketiga, orang yang membebaskan dirinya sendiri dan menjadikannya teman. Tiap tiap orang memiliki pertimbangan tersendiri akan kondisi yang dipilihnya, dan tentunya akan memperoleh konsekuensi yang berbeda pula. Seseorang dapat memilih kondisi bagi dirinya sendiri dalam waktu yang singkat, maupun ada pula yang memilih sebuah kondisi dalam waktu yang lama.




Jangan Lupa Komennya ya..!!! ^^

Senin, 24 Desember 2012

FUI: Haram Muslim gunakan atribut Natal, bila dipaksa laporkan

Syahadat on the road - Haram hukumnya bagi kaum Muslimin yang menggunakan atribut-atribut agama lain seperti salib, sinterklas, dan atribut Natal lainnya karena merupakan tasyabbuh bil kuffar (penyerupaan dengan orang kafir).

Hal ini point pertama yang diungkapkan Sekjen Forum Umat Islam (FUI) Ustadz Muhammad Al Khaththath kepada arrahmah.com, Senin (24/12) ketika menyikapi maraknya karyawan Muslim yang diminta menggunakan atribut Natal oleh tempatnya bekerja.

"Dasarnya adalah hadits Nabi Saw, siapa yang menyerupai suatu kaum maka dia termasuk dalam kaum tersebut," Ujarnya.





Jangan Lupa Komennya ya..!!! ^^

Cahaya di Wajah Ummat


oleh: Ustadz. Rahmat Abdullah (alm)

Dalam satu kesatuan amal jama’i ada orang yang mendapatkan nilai tinggi karena ia betul-betul sesuai dengan tuntutan dan adab amal jama’i. Kejujuran, kesuburan, kejernihan dan kehangatan ukhuwahnya betul-betul terasa. Keberadaannya menggairahkan dan menenteramkan. Namun perlu diingat, walaupun telah bekerja dalam jaringan amal jama’i, namun pertanggungjawaban amal kita akan dilakukan di hadapan Allah SWT secara sendiri-sendiri. 

Karenanya jangan ada kader yang mengandalkan kumpulan-kumpulan besar tanpa beru-saha meningkatkan kualitas dirinya. Ingat suatu pesan Rasulullah SAW: Man abtha-a bihi amaluhu lam yusri’ bihi nasabuhu (Siapa yang lamban beramal tidak akan dipercepat oleh nasabnya ). 




Jangan Lupa Komennya ya..!!! ^^