Tampilkan postingan dengan label pemikiran. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pemikiran. Tampilkan semua postingan

Minggu, 03 Februari 2013

Download Majmua'atur Rasail (Risalah Pergerakan) - Hasan Al Banna

Syahadat on the road - Ulama pergerakan Kontemporer itu bernama Hasal Al Banna. Ulama yang menginspirasi kalangan pemuda untuk kembali rindu kepada Agamanya. Ulama yang melegenda karena pemikirannya yang cemerlang. Ulama yang meletakkan design pergerakan Islam modern yang ditakuti oleh semua penguasa kedzoliman. Ulama yang kharismatik itu meninggalkan beberapa risalahnya untuk pemuda yang belum pernah berjumpa dengannya. Dengan risalahnya tersebut kita mampu bangkit untuk membumikan Islam dimanapun ia berada. Selamat menikmati.





Jangan Lupa Komennya ya..!!! ^^

Sabtu, 05 Januari 2013

Orientalisme, Pelacur Zionisme Berbungkus Studi Islam

orientalism

Syahadat on the road - Berbicara mengenai studi orientalisme, maka kita tidak bisa lepas dari motif politik kaum zionisme. Orientalisme dan misi-misi zionisme bagai dua sisi mata uang yang saling tersambung.

Kebencian kaum Yahudi dalam upayanya menaklukan Islam membuat mereka berpikir sangat panjang dan mendalam. Eksesnya wilayah kajian adalah cara empuk untuk mempreteli Islam satu demi satu.

Namun kendalanya, tidak jarang motif ini tertutup serapat mungkin. Orientalisme seakan-akan tampil manis dengan menyatakan diri terbebas pada misi apapun. Padahal sekalipun thesis itu benar, cepat atau lambat kajian orientalisme pasti akan berimplikasi politis.

Sebab dengan meninggalkan sisi tauhid dalam mengkaji Islam dengan dalih objektifitas, hal ini akan menjalar pada keseluruhan konsep Islam, termasuk pandangan Islam terhadap politik, relasi Islam terhadap Negara, relasi Islam terhadap kuasa, dan tak terkecuali cara pandang Islam terhadap non muslim.




Jangan Lupa Komennya ya..!!! ^^

Rabu, 02 Januari 2013

Geliat Jaringan Islam Liberal Dari Waktu Ke Waktu (7-Habis)

Syahadat on the road - Liberalisme tidak akan subur tanpa ditopang kekuatan politik. Tampaknya kalimat itu pas untuk menggambarkan perjalanan liberalisme pemikiran Islam di Indonesia. Jika era Mukti Ali, Caknur, Harun Nasution, kelompok ‘pembaharu’ dibackup oleh kekuatan orde baru. Maka jejak sama ingin diikuti oleh Jaringan Islam Liberal (JIL). Ketika jalan pemikiran dirasa gagal untuk masuk ke akar rumput, maka JIL berusaha masuk ke lini politik.

Dalam launching Komunitas Epistemik Muslim Indonesia (KEMI) di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta 13 Desember 2011, Ulil meyakinkan khalayak bahwa sudah saatnya kelompok liberal masuk ke wilayah politik praktis. Ketua DPP Partai Demokrat itu  tampak bersemangat dengan menguraikan perubahan politik Islam yang merayakan euforia demokrasi di negara-negara Muslim,




Jangan Lupa Komennya ya..!!! ^^

Senin, 31 Desember 2012

Geliat Jaringan Islam Liberal Dari Waktu Ke Waktu (6)

Syahadat on the road -Keluarnya fatwa haram Majelis Ulama Indonesia (MUI) tentang Sekularisme, Pluralisme, dan Liberalisme (Sepilis), pada tahun 2005 menjadi pukulan telak bagi Jaringan Islam Liberal (JIL). Eksistensi JIL lambat laun meredup pasca ulama di berbagai daerah ramai-ramai menyerang balik JIL. Bahkan pengamat Gerakan Yahhudi, Artawijaya menyatakan dana untuk JIL dari asing pun sempat dihentikan karena JIL dinilai gagal masuk ke dalam masjid-masjid untuk mengkampanyekan ide liberalisasi Islam.

Namun, dengan meredupnya JIL, bukan berarti gagasan liberalisme benar-benar mati. Tahun 2011, beberapa tokoh Jaringan Islam Liberal (JIL), memperkenalkan sebuah kelompok kajian baru di Jakarta. Mereka menamakan diri Komunitas Epistemik Muslim Indonesia (KEMI). Embrio KEMI sendiri berkembang sejak pertengahan 2010 dan makin tersistematisasi mulai awal Januari 2011.

“KEMI ingin memunculkan spirit bahwa umat Islam bisa berkembang. Bahwa Islam percaya kepada kebebasan berfikir dan toleran terhadap agama lain,” tandas Neng Dara Afifah saat peluncuran KEMI di Aula Student Centre UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.




Jangan Lupa Komennya ya..!!! ^^

Minggu, 30 Desember 2012

Geliat Jaringan Islam Liberal Dari Waktu Ke Waktu (5)

Syahadat on the road - Kiprah Jaringan Islam Liberal (JIL) semakin terasa ketika mereka dalam tulisan atau seminar-seminarnya mulai gegap gempita. Tercatat mereka cukup sering memakai teater Utan Kayu sebagai tempat diskusi. Ketika kasus Ahmadiyah mencuat misalnya, di situs JIL terpampang diskusi Ahmadiyah yang melibatkan Zafrulloh Ahmad Pontoh (Juru Bicara Jemaat Ahmadiyah Indonesia) dan Abdul Moqsith Ghazali dari UIN Jakarta. Pada hari Kamis, 24 Februari 2011, Pukul 19.00-21.30.

Mereka juga pernah mengadakan Diskusi Buku The Grand Design karya Stephen Hawking & Leonard Mlodinow dengan judul diskusi: Tuhan Bukan Pencipta Alam Semesta? Ya sederetan diskusi itulah yang hingga kini terus diwarisi, bahkan tak jarang diskusi-diskusi di JIL menjadi ajang fitnah terhadap para Ulama Indonesia. Mereka membonceng nama besar Ulama Indonesia untuk menepis tuduhan bahwa ide liberalisme adalah barang baru dan tidak disetujui para ulama.




Jangan Lupa Komennya ya..!!! ^^

Jumat, 28 Desember 2012

Geliat Jaringan Islam Liberal Dari Waktu Ke Waktu (4)


Anick HT
Nama Anick Hamim Tohari atau akrab disapa Anick HT mungkin masih terasa asing bagi sebagian kalangan. Namun sejatinya, laki-laki yang lahir di Pecangan Wetan ini adalah tokoh penting dibalik dinamika liberalisasi di JIL pada khususnya, maupun di Indonesia pada umumnya.

Anick HT memiliki track-record panjang dalam aktifitas liberalisasi Islam. Hal itu sudah dimulai saat ia aktif di Forum Mahasiswa Ciputat (Formaci) semasa kuliah di IAIN Jakarta. Anick HT sendiri melangkahkan kaki di IAIN Jakarta pertama kali pada tahun 1994. Ia tercatat sebagai mahasiswa jurusan Sastra Arab yang bernaung di Fakultas Adab.

Selain aktif di JIL, Anick juga menjabat Direktur Eksekutif Indonesian Conference Religion and Pluralisme (ICRP) sejak tahun 2008. ICRP adalah sebuah LSM berbentuk yayasan yang bergerak di bidang interfaith dialogue dan dialog antar agama.




Jangan Lupa Komennya ya..!!! ^^

Jumat, 21 Desember 2012

Geliat Jaringan Islam Liberal Dari Waktu Ke Waktu (3)

Syahadat on the road - Setelah generasi pertama Jaringan Islam Liberal naik daun. Era berfikir liberal mulai beralih ke generasi yang lebih muda. Nama-nama pengusung pemikiran liberal tidak lagi hanya menjadi domain Ulil Abshar Abdalla, Nong Darol Mahmada, ataupun Ahmad Sahal.

Budhy Munawar Rahman menyebut minimal ada lima orang yang menjadi kiblat generasi kedua JIL, yakni Abdul Moqsith Ghazali, Guntur Romli, Novriantoni, Anick Hamin Tohari, dan Burhanuddin Muhtadi. [1]





Jangan Lupa Komennya ya..!!! ^^

Jumat, 14 Desember 2012

Geliat Jaringan Islam Liberal Dari Waktu Ke Waktu (2)

Syahadat on the road - Pasca berdiri pada tanggal 8 maret 2001, Jaringan Islam Liberal (JIL) mulai disibukkan serangkaian agenda-agenda penting mereka untuk membumikan garis liberalisasi pemikiran Islam yang sempat booming pada era 1970-an. Tanggal ini pula menjadi saksi untuk pertama kali situs JIL didirikan dengan nama islamlib.com.

Dalam situs tersebut dijelaskan makna Islam Liberal dalam perspektif JIL adalah suatu bentuk penafsiran atas Islam dengan landasan: Pertama, membuka pintu ijtihad pada semua dimensi Islam. Kedua, mengutamakan semangat religio-etik dan bukan makna literal teks. Ketiga, mempercayai kebenaran yang relatif, terbuka dan plural. Keempat, memihak pada minoritas yang tertindas. Kelima meyakini kebebasan beragama. Keenam memisahkan otoritas duniawi dan ukhrawi serta keagamaan dan politik (sekularisme).




Jangan Lupa Komennya ya..!!! ^^

Senin, 10 Desember 2012

Geliat Jaringan Islam Liberal Dari Waktu ke Waktu (1)


“HALAL, Tapi Tuhan Tidak Suka”. Judul artikel menggelitik ini penulis dapatkan dari sebuah situs “Islam” tertanggal 6/10/2010. Berkisah tentang sebuah klaim fiqih yang menyatakan murtad bagi seorang muslim adalah hal lumrah, artikel ini kemudian mengqiyaskan pemurtadan yang dilakukan tiap mukmin setara dengan kasus perceraian. Jadi, walaupun halal, tapi Tuhan tidak suka. Begitu maksudnya.

Rupanya, kalimat Lâ Ikrâha fî ad-Dîn dalam Al Qur’an, bagi sang penulis adalah bukti tidak ada paksaan dalam beragama. Keterpaksaan dalam beragama hanya akan melahirkan sosok-sosok labil yang tidak memiliki dasar filosofis-rasional dalam beragama. Nyaris mirip dengan memilih Istri.
Bahkan dalam tulisan lain berjudul “Salahkah Geert Wilders?”, seorang penulis menyatakan bahwa Ayat-ayat al-Qur’an dan hadis cukup banyak membenarkan pandangan Geert Wilders yang mengatakan Al Qur’an kitab bar-bar. Di akhir kalimat, sang penulis berujar:
“Orang yang meragukan Fitna Wilders dari sekarang harus menelaah al-Qur’an, hadis-hadis, dan sejarah Islam dengan akal yang sesehat-sehatnya.”





Jangan Lupa Komennya ya..!!! ^^

Sabtu, 08 Desember 2012

Seperti Inilah Theosofi Menafsirkan Kata "Allah"

Markas Theosofi Internasional di Adyar, Chennai, India
Syahadat on the road - MAJALAH Pewarta Theosofi Boewat Tanah Hindia Nederland, edisi 1921, tahun KA XIV, Bagian No. 2 menelurkan sebuah artikel khusus tentang Islam. Persoalan ini diangkat karena para pengkaji theosofi ingin mendudukan makna ajaran Islam seutuhnya.

Di majalah mingguan milik aliran kebatinan Yahudi tersebut, dijelaskan bahwa kali pertama kekeliruan sebagian kalangan dalam memaknai Islam, terjadi ketika menafsirkan nama Allah. Hal ini berimbas pada reduksi manusia dalam memahami sifat-sifat Tuhan. Menurut Majalah Pewarta Theosofi, di balik lafaz Allah / الله tersembunyi kekuatan alam yang begitu menakjubkan. Sifat-sifat Allah terebut sudah melekat di dalam nama Allah sendiri berupa unsur-unsur alam seperti Api, Angin, Air, dan Bumi.





Jangan Lupa Komennya ya..!!! ^^

Selasa, 20 November 2012

Ahdaful Musyarokah


Syahadat on the road - Sejak awal, musyarokah kita—keterlibatan kita dalam pemerintahan—sama sekali bukan ditujukan untuk kemenangan zhahir saja yang cenderung diisi dengan al-kibr dan al-kibriya’, merasa besar dan sombong.

Kita bermusyarokah untuk mencapai kemenangan sejati, yang didefinisikan oleh Imam Ahmad ibnu Hanbal:

ما لازم الحق قلوبنا

Kemenangan sejati yang paling mendasar dan substansial adalah jika kebenaran tetap bersemayam di hati kita. Tidak terkontaminasi oleh racun-racun kehidupan, tidak tergoda oleh iming-iming apapun bentuknya, yang membuat hati kita diisi oleh nilai-nilai lain selain nilai kebenaran yang bersumber dari Allah SWT.

Kemenangan sejati juga adalah jika kita berhasil menegakkan kedaulatan Allah di dalam diri kita. Berhasil menegakkan kedaulatan Allah di dalam keluarga kita. Berhasil menegakkan kedaulatan Allah di rumah kita, di bangsa kita dan di negeri kita. Sehingga orientasi hidup bangsa kita adalah mardhotllah, ridho Allah semata.

Oleh karena itu pertama-tama yang harus kita pastikan adalah ahdaful musyarokah (tujuan-tujuan musyarokah) kita. Jangan sampai berpesong sedikitpun.




Jangan Lupa Komennya ya..!!! ^^