Syahadat on the road - Balas dendam ketika anda mampu melakukannya sungguh terasa memuaskan hati. kata orang jawa :" mareeem".
Namun tahukah anda bahwa memaafkan ketika anda mampu membalas adalah bukti kebesaran jiwa anda. Hanya orang2 besarlah yg mampu memaafkan dan bahkan tersenyum ketika ia mampu membalas namun ia tidak melakukannya.
Suatu hari ada seorang yahudi yg datang dan mengumpat nabi dengan berkata:
السام عليك
(Semoga kebinasaan menimpamu.)
Sabtu, 02 Februari 2013
Minggu, 27 Januari 2013
Indahnya Hidup, Penuh dengan Pahala
الأعمال بالنيات = الأمور بمقاصدها
[1] Dalam redaksi lain (في كل أمره), ini menunjukkan bahwa diantara makna kata (الأمر) adalah (الشيء), sebagaimana dijelaskan oleh pengarang kitab Dusturul Ulama’ (1/128), wallohu a’lam.
Semua Amalan Tergantung Pada Niatnya
Mukadimah:
Kaidah ini menunjukkan betapa besarnya perhatian Islam terhadap masalah hati dan niat, mengapa demikian? Karena hati adalah kunci utama amalan kita, dan niat adalah ruh penggerak jasad kita. Kita hanya akan mendapat pahala ketika kita niatkan amalan itu karena Alloh, sebagaimana sabda Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam-:
عن سعد بن أبي وقاص قال، قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: المؤمن يؤجر في كل شيء،[1] حتى في اللقمة يرفعها إلى في
امرأته. (رواه أحمد وغيره وقال الأرناؤوط إسناده حسن)ـ
Dengan niat yang baik, amalan yang sederhana bisa menghasilkan pahala yang agung. Tidak asing bagi kita, kenapa sahabat Abu Bakar mengungguli sahabat-sahabat yang lainnya? Seorang tabi’in, Bakr ibnu Abdillah al-Muzaniy mengatakan:
إن أبا بكر رضي الله عنه لم يفضل الناس بكثرة صلاة، إنما فضلكم بشيء كان في قلبه (صحيح موقوف على بكر بن عبد الله المزني)ـ
Sebaliknya karena niat yang salah, amalan yang besar sekalipun, bisa jadi hanya seperti debu yang beterbangan. sebagaimana firman Alloh swt:
وقدمنا إلى ما عملوا من عمل فجعلناه هباء منثورا
Terlalu banyak ayat maupun hadits yang menunjukkan betapa pentingnya kita memperhatikan hati dan niat kita, sebagai misal saja:
وما أمروا إلا ليعبدوا الله مخلصين له الدين (وكل آية في قرن العبادة أو الدعاء بالإخلاص فإنها دليل على هذه القاعدة)ـ
وعن
أبي هريرة قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: “إن الله لا ينظر إلى
أجسادكم، ولا إلى صوركم، ولكن ينظر إلى قلوبكم” (رواه مسلم)ـ
إِنَّمَا
الدُّنْيَا لِأَرْبَعَةِ نَفَرٍ: عَبْدٍ رَزَقَهُ اللَّهُ مَالًا
وَعِلْمًا، فَهُوَ يَتَّقِي فِيهِ رَبَّهُ، وَيَصِلُ فِيهِ رَحِمَهُ،
وَيَعْلَمُ لِلَّهِ فِيهِ حَقًّا، فَهَذَا بِأَفْضَلِ الْمَنَازِلِ.
وَعَبْدٍ رَزَقَهُ اللَّهُ عِلْمًا وَلَمْ يَرْزُقْهُ مَالًا، فَهُوَ
صَادِقُ النِّيَّةِ، يَقُولُ: لَوْ أَنَّ لِي مَالًا لَعَمِلْتُ بِعَمَلِ
فُلَانٍ فَهُوَ بِنِيَّتِهِ فَأَجْرُهُمَا سَوَاءٌ وَعَبْدٍ رَزَقَهُ
اللَّهُ مَالًا وَلَمْ يَرْزُقْهُ عِلْمًا فَهُوَ يَخْبِطُ فِي مَالِهِ
بِغَيْرِ عِلْمٍ لَا يَتَّقِي فِيهِ رَبَّهُ وَلَا يَصِلُ فِيهِ رَحِمَهُ
وَلَا يَعْلَمُ لِلَّهِ فِيهِ حَقًّا فَهَذَا بِأَخْبَثِ الْمَنَازِلِ
وَعَبْدٍ لَمْ يَرْزُقْهُ اللَّهُ مَالًا وَلَا عِلْمًا فَهُوَ يَقُولُ
لَوْ أَنَّ لِي مَالًا لَعَمِلْتُ فِيهِ بِعَمَلِ فُلَانٍ فَهُوَ
بِنِيَّتِهِ فَوِزْرُهُمَا سَوَاءٌ (رواه الترمذي وقال هَذَا حَدِيثٌ
حَسَنٌ صَحِيحٌ، وصححه الألباني)ـ
Ini merupakan kaidah yang sangat agung, ia masuk dalam separoh syariat Islam, mengapa demikian? Karena syariat Islam terbagi menjadi dua: Syariat yang mengatur amalan lahiriyah, dan syariat yang mengatur amalan batiniyah, dan kaidah ini sebagai pengatur amalan batiniyah, yaitu niat.
Para Ulama salaf mengetahui benar hal ini, oleh karenanya mereka sangat serius dalam memperbaiki niatnya. Renungkanlah atsar-atsar berikut ini:
- Yahya ibnu Katsir: (تعلّموا النية، فإنه أبلغُ من العمل) pelajarilah masalah niat, karena itu lebih penting daripada amalan.
- Zabid al-Yami: (إني لأُحِبُّ أن تكون لي نيةٌ في كل شيءٍ حتى في الطعام والشراب) sungguh aku senang, untuk meniatkan segala sesuatunya (untuk ibadah), meskipun dalam hal makan dan minum.
- Dawud at-Tho’i: (رأيت الخيرَ كلَّه، إنما يجمعُه حسنُ النية) aku melihat, segala kebaikan hanya terkumpul dalam niat yang baik.
- Sufyan at-Tsauriy: (ما عالَجْتُ شيئاً أشدَّ عليّ من نيّتِي، لأنها تتقلَّبُ عليّ) tidak ada yang lebih berat bagiku melebihi beratnya mengobati niatku, karena ia selalu berubah-rubah dalam diriku.
- Yusuf bin Asbath: (تخليصُ النية من فسادها أشدُّ على العالِمين من طول الاجتهاد) membersihkan niat dari kotoran, lebih berat daripada istiqomah dalam amal ibadah.
- Muthorrif ibnu Abdillah: (صلاحُ القلبِ بصلاحِ العمل, وصلاحُ العمل بصلاح النية) hati yang baik adalah karena amal yang baik, dan amal yang baik adalah karena niat yang baik.
- Abdulloh bin Mubarok: (رُبَّ عملٍ صغيرٍ تُعَظِّمه النية, ورُبَّ عملٍ كبيرٍ تُصَغِّرُه النية) betapa banyak amalan yang sepele menjadi besar karena niatnya, sebaliknya betapa banyak amalan yang besar menjadi kecil karena niatnya.
- Ibnu ’Ajlan: (لا يصلح العملُ إلا بثلاث: التقوى لِلّه, والنيةُ الحسنة, والإصابةُ) Amal tidak akan menjadi baik kecuali dengan tiga syarat: takwa, niat yang baik dan benar dalam melakukannya.
- Fudhoil bin ’Iyadh: (إنما يريد الله منك نيتك وإرادتك) Sesungguhnya yang Alloh inginkan darimu adalah niat dan tujuanmu.
- Beliau juga mengatakan:
(إن العملَ إذا كان خالصاً ولم يكن صواباً لم يُقْبَل, وإذا كان صوابا ولم يكن خالصا، لم يُقْبَل حتى يكون خالصا صوابا)
Sesungguhnya amal yang ikhlas tapi tidak benar, ia tidak akan diterima, begitu pula ketika amal itu benar tapi tidak ikhlas… Ia tidak akan diterima hingga menjadi amal yang ikhlas dan benar. (Ikhlas jika dilakukan karena Alloh, dan benar jika dilakukan sesuai tuntunan).
Begitulah para salafus sholeh, mereka tidak berkata dan bertindak kecuali setelah menghadirkan niat yang baik, sehingga menjadi berkah ucapan, perbuatan dan umur mereka. Mereka menjadi teladan dalam amalannya, karena mereka lebih dulu menjadi teladan dalam memperbaiki niatnya. Sungguh mereka tidak asal-asalan dalam beramal, tapi amal mereka muncul dari hati yang bersih, suci, dipenuhi iman, takwa dan rasa takut pada Alloh ta’ala, dan tentunya amal mereka itu muncul dari pemahaman yang mendalam tentang kitab dan sunnah.
Itulah yang membuat mereka beda dengan kita, padahal puasa mereka sepintas sama seperti puasa kita, begitu pula sholatnya, sama seperti sholat kita, hanya saja niat dan tujuan yang jelas jauh berbeda.
Oleh karena itu, hendaklah kita benar-benar memperhatikan masalah niat ini, Pahala niat sangat agung, begitu bahanyanya sangat besar. Amal kita ibarat jasad, sedangkan niat adalah nyawanya, dan tiada guna jasad tanpa ada nyawa. Amal kita juga ibarat pohon, sedangkan niat adalah akarnya, dan pohon tidak akan tumbuh dengan baik tanpa akar yang kokoh.
Itulah sebabnya kita merasa berat dalam melakukan ibadah, mengapa? Karena kita tidak menghadirkan niat yang tulus dalam beribadah. Wallohul musta’an.
Nash-nash diatas, secara tidak langsung, juga menunjukkan pentingnya kita mempelajari kaidah pertama ini: “segala sesuatu tergantung pada tujuannya”.
Dari manakah para ulama menyimpulkan kaidah ini?
Dari banyak nash-nash syar’i, baik dari Alqur’an maupun Sunnah… Dan nash yang paling mirip dengan bunyi kaidah ini adalah hadits yang sangat masyhur, yang diriwayatkan oleh sahabat Umar bin Khottob ـ: (قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: إنما الأعمال بالنيات)ـ semua amalan itu tergantung niatnya.
Bahkan sebagian ulama mengatakan, bahwa Lafal hadits ini lebih baik dan lebih mengena dibandingkan lafal kaidah tersebut, sebagaimana dikemukakan oleh Ibnus Subkiy dalam kitabnya al-Asybah wan Nadho’ir (1/54).
Apa arti kaidah ini?
(الأمور) adalah bentuk jamak (plural) dari kata (الأمر) dan makna kata tersebut dalam bahasa arab banyak, diantaranya: perintah, keadaan, sesuatu, perbuatan. Dan yang dimaksud (الأمر) dalam lafal kaidah ini adalah: (الفعل والعمل)[2] yaitu perbuatan, dan ia mencakup perbuatan lisan dan anggota badan lainnya.
(مقاصد) adalah bentuk plural (jamak) dari kata (مقصد) yang berarti (النية),[3] dan definisi niat adalah: dorongan hati untuk melakukan sesuatu yang dikehendakinya.
Dari keterangan ini, kita dapat mengambil kesimpulan, bahwa arti dari kaidah ini, dilihat dari susunan katanya adalah: Semua amalan itu tergantung niatnya, dan makna ini sama persis dengan makna lafal hadits (الأعمال بالنيات). Karena maknanya sama, maka penggunaan lafal nabawi (الأعمال بالنيات), lebih utama ketimbang menggunakan lafal non nabawi, seperti (الأمور بمقاصدها), wallohu a’lam.
Maksud kaidah ini adalah, bahwa semua amalan seseorang, (baik ucapan maupun perbuatan, baik amalan duniawi maupun ukhrowi), akan berbeda hasil dan hukumnya, sesuai dengan maksud dan tujuan orang yang melakukannya.
Jangan Lupa Komennya ya..!!! ^^
Sabtu, 12 Januari 2013
Hukum Wanita Bekerja dan Beberapa Syarat Pekerjaannya
Syahadat on the road - Wanita adalah manusia juga sebagaimana laki-laki. Wanita merupakan
bagian dari laki-laki dan laki-laki merupakan bagian dari wanita,
sebagaimana dikatakan Al-Qur’an:
“…Sebagian kamu adalah turunan dari sebagian yang lain …” (QS. Ali Imran: 195)
Manusia
merupakan makhluk hidup yang di antara tabiatnya ialah berpikir dan
bekerja (melakukan aktivitas). Jika tidak demikian, maka bukanlah dia
manusia.
Sesungguhnya Allah Ta’ala menjadikan manusia agar mereka
beramal, bahkan Dia tidak menciptakan mereka melainkan untuk menguji
siapa di antara mereka yang paling baik amalannya. Oleh karena itu,
wanita diberi tugas untuk beramal sebagaimana laki-laki – dan dengan
amal yang lebih baik secara khusus – untuk memperoleh pahala dari Allah
Azza wa Jalla sebagaimana laki-laki. Allah SWT berfirman:
“Maka Tuhan mereka memperkenankan permohonannya (dengan berfirman), ‘Sesungguhnya Aku tidak menyia-nyiakan amal orang-orang yang beramal di antara kamu, baik laki-laki maupun perempuan…’” (QS. Ali Imran: 195)
Jangan Lupa Komennya ya..!!! ^^
Tadabur Surat Al-Isra
Oleh :
Ustadz Muhammad Jamhuri, Lc.
“Maha Suci Allah, yang telah
memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil
Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami
perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya
Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui “ (QS. Al-Israa: 1)
Syahadat on the road - Mengapa Allah swt memulai
ayat ini dengan kata “subhanalladzi” (Maha Suci Alllah) ?
Jawabannya adalah agar kita menyikapi peristiwa Isra Mi’raj ini dengan
pendekatan iman, bukan dengan pendekatan logika. Sebab, jika dengan pendekatan
logika maka akan sulit dinalar oleh akal untuk suatu peristiwa Isra Mi’raj yang
jaraknya jauh itu hanya dilakukan dalam waktu semalam
saja. Orang-orang Quraisy menempuh perjalanan
Makkah-Jerussalem biasa memakan waktu tidak kurang dari sepuluh
hari.
Jangan Lupa Komennya ya..!!! ^^
Turis Masjid Raya Banda Aceh Diberi Pakaian Penutup Aurat
Syahadat on the road - Satpam
Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh, memakaikan baju khusus yang
menutupi aurat kepada sekitar 20 turis wanita dari berbagai negara yang
berkunjung ke Masjid Raya Banda Aceh, Kamis (10/1). Baju tersebut telah
dipersiapkan petugas masjid untuk dipakaikan kepada para turis ketika
memasuki halaman masjid kebanggaan masyarakat Aceh itu.
Para
turis yang tiba di masjid raya sekitar pukul 15.30 WIB kemarin dibawa
menggunakan minibus Visit Aceh Year 2013 dari Pelabuhan Ulee Lheue,
Banda Aceh. Mereka tiba di Banda Aceh sekitar satu jam sebelumnya naik
Kapal Pesiar MV Clipper Odyssey yang lego jangkar tak jauh dari
Pelabuhan Ulee Lheue.
Jangan Lupa Komennya ya..!!! ^^
Ratusan Ribu Pengungsi Suriah Dalam Derita
Syahadat on the road - Kantor
Komisaris Tinggi PBB untuk Pengungsi (UNHCR) dikabarkan telah merilis
data pengungsi Suriah. UNHCR mengatakan bahwa 100 ribu warga Suriah
lebih meninggalkan negara mereka selama bulan Desember lalu, hingga
meningkatkan jumlah pengungsi yang tercatat saat ini telah mencapai
angka 600 ribu orang lebih.
Badan pengungsi PBB mengumumkan pada
hari Jumat (11/1), sebanyak 612.134 warga Suriah telah terdaftar, atau
berada dalam proses pendaftaran sebagai pengungsi di Negara-Negara
tetangga Suriah dan Afrika Utara.
Kantor UNHCR mengatakan hampir
176.600 pengungsi telah terdaftar di Yordania, dan sebanyak 1100 warga
Suriah menyeberangi perbatasan Yordania setiap harinya.
Juru
bicara UNHCR, Adrian Edwards mengatakan bahwa “banyak pengungsi di kedua
kamp dan non-kamp, mengalami kondisi yang sangat dingin dan basah.”
“Banyak
dari mereka yang berada di kamp tanpa alas kaki, pakaian mereka basah,
bahkan tertutup lumpur dan salju,” tambahnya.
[sm/syahadatontheroad/islampos/pt]
Jangan Lupa Komennya ya..!!! ^^
Etika Bertetangga Dalam Islam
Dalam
ayat diatas sangat jelas sekali bahwa Allah SWT. memerintahkan kita
untuk tidak menyekutukan-Nya dan berbuat baik terhadap orang-orang yang
berada disekitar kita termasuk kepada tetangga. Selain itu dalam
menghormati tetangga pun sudah dijelaskan dalam sebuah hadits yang
diriwayatkan oleh Abu Hurairah yang artinya : “Barangsiapa beriman
kepada Allah dan hari akhir maka hendaknya ia mengatakan hanya hal yang
baik atau diam. Dan barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir maka
hendaknya ia menghormati tetangganya. Dan barangsiapa beriman kepada
Allah dan hari akhir maka hendaknya ia menghormati tamunya” (HR. Muslim)
Jangan Lupa Komennya ya..!!! ^^
Langganan:
Postingan (Atom)
