Senin, 11 Maret 2013

Belajar dari Kisah Nabi Musa a.s.

oleh: Muh. Nurfadli

Syahadat on the road -

Apakah itu yang di tangan kananmu, hai Musa?. Berkata Musa: ‘Ini adalah tongkatku, aku bertelekan padanya, dan aku pukul (daun) dengannya untuk kambingku, dan bagiku ada lagi keperluan yang lain padanya’.” (Thaha : 17-18)

Adalah sebuah keniscayaan bahwa manusia sangat memerlukan komunikasi. Andai semua frekuensi suara ini secara otomatis terdengar semua telinga kita, maka kita akan mendengar berbagai komunikasi setiap saat. Bermutu ataupun tidak komunikasi telah menjadi kebutuhan dasar seorang manusia dalam beriteraksi dengan sesama. Dengan komunikasi kita dapat mengekspresikan apapun yang menjadi gagasan dalam otak. 

Teringat sebuah kejadian yang barangkali kita semua pernah menyaksikan. Bagaimana seseorang memberikan “ekspresi lebih” ketika seseorang itu sedang bahagia. Anak kecil yang di beri permen kesukaannya ketika ditanya “Gimana kabarmu??”, mungkin akan menjawab lebih banyak dari yang ditanyakan sebab rasa gembiranya mendapat permen kesukaan sebelum ditanya. Begitu juga ketika seseorang tengah mendapat pengumuman diterimanya ia di sebuah lapangan pekerjaan, sangking riangnya mungkin ketika orang hanya bertanya “Ada apa dengan dirimu, sepertinya bahagia sekali?” maka orang tersebut tak hanya menjawab pertanyaan itu, tapi juga mengajaknya makan. 

Atau bahkan ketika ia disapa oleh orang yang mempunyai jabatan di atas dirinya. Dengan sapaan yang baik si atasan menyapa orang tersebut, mungkin sangking riangnya kita pun akan bereaksi lebih atas semua yang ditanya oleh atasan tentang diri kita. Dan kejadian ini mungkin juga telah terjadi pada diri kita saat kita berada pada kondisi seperti itu.

Salah seorang salafus Shaleh pernah berujar “Jangan memutuskan sebuah perkara ketika kita sedang dalam keadaan marah, dan jangan mudah memberi Janji ketika kita dalam keadaan bahagia dan bersuka cita”. Ini sebenarnya adab dan nasehat untuk senantiasa menguasai diri dari setiap kejadian. Kita diharapkan tenang dan tidak cepat-cepat mengambil keputusan dan memberikan harapan. Tapi, kita tak membahas tentang hal ini. Perkataan shalafus Shaleh tadi cukup menjadi tadzkiroh bagi diri kita dalam bersikap.

Sekarang yang kita coba bahas adalah tadabbur dari surat Thaha ayat 17-18 di atas. Dari dua ayat di atas tersebut kita menjumpai bagaimana kegembiraan Nabi Musa a.s. tatkala Allah SWT sebagai Rabbul Alamin menyapa dirinya. Bagaimana tidak Dzat Yang Mahakuasa menyapa dan memilih seorang hamba untuk menjadi kepercayaannya. Sapaan itu diabadikan oleh Allah Swt di surat yang sama dari ayat 10-16. 

Ketika ia melihat api, lalu berkatalah ia kepada keluarganya: "Tinggallah kamu (di sini), sesungguhnya aku melihat api, mudah-mudahan aku dapat membawa sedikit daripadanya kepadamu atau aku akan mendapat petunjuk di tempat api itu".

Maka ketika ia datang ke tempat api itu ia dipanggil: "Hai Musa.

Sesungguhnya Aku inilah Tuhanmu, maka tanggalkanlah kedua terompahmu; sesungguhnya kamu berada di lembah yang suci, Thuwa.

Dan Aku telah memilih kamu, maka dengarkanlah apa yang akan diwahyukan (kepadamu).
Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah salat untuk mengingat Aku.

Sesungguhnya hari kiamat itu akan datang Aku merahasiakan (waktunya) agar supaya tiap-tiap diri itu dibalas dengan apa yang ia usahakan.

Maka sekali-kali janganlah kamu dipalingkan daripadanya oleh orang yang tidak beriman kepadanya dan oleh orang yang mengikuti hawa nafsunya, yang menyebabkan kamu jadi binasa". (Surat  Thaha ayat 10-16.)

Setelah menyapa dan memberikan statment kelebihan Musa a.s. yang dijadikan sebagai orang terpilihNya, Allah swt bertanya kepada nabi Musa tentang apa yang ada di tangan kanannya. Kalaulah Nabi Musa a.s., berada pada kondisi takut dan tertekan, mungkin ia akan menjawab dengan jawaban seadanya. Misal “Ada tongkat ya Tuhanku”. Tapi Nabi Musa kala itu sangat riang, layaknya contoh yang telah di utarakan di atas. Nabi Musa a.s. justru menjawab lebih dari yang ditanya sebagai ekspresi keriangannya, Berkata Musa: ‘Ini adalah tongkatku, aku bertelekan padanya, dan aku pukul (daun) dengannya untuk kambingku, dan bagiku ada lagi keperluan yang lain padanya”. Tiga jawaban lain yang diberikan oleh Nabi Musa a.s. untuk menjawab satu pertanyaan Allah swt. Sungguh ekspresi riang yang luar biasa dari seorang Nabi Allah tersebut.

Tapi, sejenak kita pikirkan. Apakah maksud Allah bertanya kepada Nabi Musa tentang sesuatu yang ada di tangan kanannya?. Sedangkan Allah Mahatahu atas segala sesuatu hatta sekecil-kecilnya yang ada di alam semesta ini. Ikhwati, Hal ini membuktikan bahwa Allah swt suka memperhatikan seorang hambaNya. Allah sedang memberikan perhatian kepada Nabi Musa a.s.. Dari sini kita petik hikmah bahwa, hatta sampai seorang Nabi sekaliber Nabi Musa a.s. itu membutuhkan perhatian. Ya sebuah perhatian. Yakni rasa simpati yang kita curahkan kepada orang lain untuk mengokohkan jalinan kasih sayang.

Memberikan perhatian ini penting sekali bagi keberlangsungan kehidupan Sosial kita. Dan ini merupakan kebutuhan fitrah semua manusia. Ketika Nabi Musa, lari dari Istana karena telah membunuh orang, Allah memberinya perhatian. Ketika Nabi Adam sendiri, Allah memberikan perhatian dengan memberikannya pendamping, yakni Hawa. Ketika Nabi Muhammad saw mendapat wahyu pertama kali di gua Hira, Allah pun memberikan perhatian lewat Khadijah r.a. Masya Allah, masalah perhatian ini merupakan hal yang penting. Sangkin pentingnya, hal ini juga yang sering menjadi masalah di setiap rangkaian ukhuwah kita. Ketika kita tak lagi memberikan perhatian bagi saudara-saudara perjuangan kita, tetangga kita, bahkan keluarga kita. Maka rusaklah ukhuwah itu perlahan-lahan.

Saudaraku, yang perlu diingat adalah adab dalam masalah ini. Yakni seyogyanya kita menganggap perhatian yang ditujukan kepada diri kita bukanah suatu Hak kita. Sehingga kita tidak boleh meminta atau menuntutnya. Sedangkan seyogyanya sikap perhatian kita kepada orang lain, kita anggap sebagai kewajiban. Sehingga kita serta merta melakukannya dengan keikhlasan dan keridhoan. Maka jadilah orang yang pertama kali memberikan perhatian bagi orang lain di sekitar dan di sekeliling kita.


Sunguh mengesankan zaman Era Kerasulan Muhammad saw, ketika memberikan perhatian kepada orang lain itu lebih diutamakan dibanding meminta perhatian dari orang lain. Nabi Muhammad saw dan para sahabat saling memberikan perhatian bagi masalah keadaan fisik (kesehatan) saudaranya, mereka memberikan perhatian pada keadaan keimanan saudaranya, mereka memberikan perhatian pada keadaan perekonomian saudaranya, mereka memberikan perhatian pada keadaan Agama yang diperjuangkannya. Sehingga mereka meraih gelar “Kuntum Khoiru Ummah..”(Ali Imran:110).




Jangan Lupa Komennya ya..!!! ^^