Senin, 11 Maret 2013

Meja Kayu untuk Ayah


Meja Kayu untuk Ayah

Syahadat on the road - Di sebuah kota kecil, tinggal sebuah keluarga kecil. Keluarga tersebut terdiri dari ayah, ibu, seorang anak berusia lima tahun bernama Brian dan kakek. Bisa dikatakan, keluarga ini adalah keluarga yang sibuk. Walau begitu, mereka selalu menyempatkan waktu untuk makan malam bersama. Mereka selalu makan di meja yang sama, sama seperti keluarga pada umumnya.

Pada suatu hari, saat usia sang kakek makin menua, pandangannya mulai rabun. Tangannya yang renta mulai goyah saat mengangkat benda.

Rutinitas makan malam yang biasanya lancar dan menyenangkan jadi berantakan karena ulah sang kakek. Beberapa kali dia menumpahkan minuman, sehingga taplak meja menjadi kotor. Belum lagi jika makanan yang dia ambil berceceran di lantai, anak laki-lakinya dan menantu perempuannya jadi kesal karena harus berkali-kali membersihkan meja dan lantai setelah makan malam.




Jangan Lupa Komennya ya..!!! ^^

Belajar dari Kisah Nabi Musa a.s.

oleh: Muh. Nurfadli

Syahadat on the road -

Apakah itu yang di tangan kananmu, hai Musa?. Berkata Musa: ‘Ini adalah tongkatku, aku bertelekan padanya, dan aku pukul (daun) dengannya untuk kambingku, dan bagiku ada lagi keperluan yang lain padanya’.” (Thaha : 17-18)

Adalah sebuah keniscayaan bahwa manusia sangat memerlukan komunikasi. Andai semua frekuensi suara ini secara otomatis terdengar semua telinga kita, maka kita akan mendengar berbagai komunikasi setiap saat. Bermutu ataupun tidak komunikasi telah menjadi kebutuhan dasar seorang manusia dalam beriteraksi dengan sesama. Dengan komunikasi kita dapat mengekspresikan apapun yang menjadi gagasan dalam otak. 




Jangan Lupa Komennya ya..!!! ^^

Senin, 11 Februari 2013

Realita Cinta Sebuah Vespa



Syahadat on the road - Dinginnya malam tak membuat beku dirinya, pekatnya malam tak membuat redup rasa keberaniannya. Kesendiriannya seakan selalu mendapat ketidakpedulian orang-orang disekitarnya. Hadirnya mengundang gelak tawa, diamnya juga sering menjadi bahan tertawaan, demikianpun perginya terkadang ada yang mensyukuri dan tetap menyisakan seonggok tawa menghiasi wajah orang-orang yang ada di dekatnya. Terkadang ia merasa jengkel atau kesal, dan menjadi tidak bisa bergerak.




Jangan Lupa Komennya ya..!!! ^^

Sabtu, 09 Februari 2013

Tahan Pandanganmu


oleh: Muhammad Nurfadli
 
Syahadat on the road - Entah kenapa sepertinya ada kenikmatan tersendiri ketika kita melihat seseorang, terlebih orang yang kita lihat tersebut adalah orang yang bukan muhrim kita. Ingin berlama-lama. Secara singkatnya seperti itu, apalagi paras wajah sang objek begitu ‘wah’. Cukup sulit memang menahan rasa ingin berlama-lama dalam melihat. Bahkan ada yang sudah menjaga pandangan tapi tetap berusaha untuk mencuri-curi pandangannya. Indah. Bahkan tidak cukup dengan kata Indah. Tak cukup untuk diungkapkan dengan kata-kata. Pepatah mengatakan “dari mata turun ke hati”, memang benar adanya kala dalam melihat tidak diikuti dengan niat yang baik dan benar. Pandangan kita tidak lagi untuk Allah swt, tapi berubah makna menjadi menikmati. Yang tentunya ada campur tangan sang nafsu syahwat disana.





Jangan Lupa Komennya ya..!!! ^^

Rembulan itu


Rembulan muncul atas nama ukhuwah
Entah mengapa...
Seketika terlihat terang..
Langit hatiku tak lagi redup seperti biasanya..
Aku tak kenal rembulan ini
Melihatnya pun hanya sekali
Tapi kenapa...
Ia datang lalu menyinari
Seakan tahu, diri ini sedang dilanda sepi..
Aku yakin ini bukan mimpi
Atau bahkan sekedar ilusi..
It’s reality..
Rembulan inilah yang kuharap
Menemani jalanku
Selamanya..

by: muh. nurfadli




Jangan Lupa Komennya ya..!!! ^^

Kamis, 07 Februari 2013

Fatamorgana



Oleh: Muh. Nurfadli

Syahadat on the road - Semu, tak abadi, terlihat indah dikejauhan, hampa tampak dipelupuk mata. Ya begitulah, Allah menjelaskan kepada kita hakikat fatamorgana. Layaknya debu yang telah menempel berbulan-bulan pada sebuah batu, lalu hilang sekejap di sapu hujan yang hanya beberapa jam. Sekejap ada, sekejap hilang. Sangat nikmat dipandang, menarik untuk didekati namun berujung pada sebuah kesengsaraan. Allah pun mengajarkan kepada kita bagaimana siti hajar mengikuti keinginannya untuk mengejar fatamorgana. Sampai tujuh kali, sang istri tercinta dari Nabi Ibrahim itu tertipu oleh fatamorgana. Sampai akhirnya diapun bertawakkal kepada Allah dan mendapatkan air zam-zam.





Jangan Lupa Komennya ya..!!! ^^

Biarkan Luka Ini



Oleh: Muhammad Nurfadli

Biarlah luka ini menganga
Tanpa jahitan
Tanpa balutan
Menindih segala rasa kecewa
Yang terpendam sekian lama
Dalam hati berbungkus selendang warna
Berpenuh hitam pekatnya

Biarkan luka ini seperti ini
Agar sedih hati teringkari
Tersadar dalam jati diri
Atas perkara hidup
Yang menjermuskan jiwa pada antipati
Merestui cahaya yang kian redup

Biarkan luka ini tak terobati
Biarkan luka ini kubawa lari
Pergi dalam peluh sejati
Biarkan luka ini begini
Agar ku tau cambukan masa lalu
Bertabur malu dan pilu
Dan ku lari darinya
Melangkah tegap raga
Dan ku tak peduli
Ku ingin tegap berlari
Sampai ku mati.

Februari 2013



Jangan Lupa Komennya ya..!!! ^^