Syahadat on the road - mengikuti mukhoyyam adalah sebuah kebahagiaan tersendiri. Ini mukhoyyam yang dilaksanakan tanggal 16-18 November 2012 di Sumur Putri. Kali ini mukhoyyam dilaksanakan dengan nuansa yang FUN. Atmosfer yang dirancang adalah atmosfer yang ceria namun tidak mengurangi ke ontentikan mukhoyyam itu sendiri yang secara maknawi ingin menumbuhkan sifat asykariyah para kader dakwah. Tua-muda, miskin-kaya, mahasiswa-pegawai, semua mempunyai kedudukan yang setara pada mukhoyyam ini. Salah satu peraturan yang harus dilaksanakan adalah "Tidak diperbolehkan bagi tiap-tiap kelompok untuk membawa makanan siap saji", sehingga dengan peratura ini semua anggota kelompok mampu bahu membahu membuat makanan yang akan disantap pada 3 hari perkemahan.
Minggu, 16 Desember 2012
Sabtu, 15 Desember 2012
Katalog Kerusakan Liberalisme
Syahadat on the road - Kerontokan dasar kendali logika
terekam jelas di sudut pikiranmu. Lambaikan pesoka keangkuhan bertabur
kelemahan. Sedari dulu logika terpakai, sedari dulu pertentangan memulai.
Menghamba keras pada akal fikiran. Mengabaikan indahnya pesona alqur’an. Yang
menjadi pedoman. Pada relung hati kesatria pengembara kehidupan.
Maka kau tak ragu
meng-oposisi-kan diri. Dengan dalih kebebasan. Kau cela setiap untaian hakikat
agama yang tergambar pada kejadian nyata. Meradang engkau saat kekuasaan Qur’an
bersanding pedang menguasai nusantara. Kalap engkau melihat kejayaan islam
menjadi pijakan. Kau tersungkur saat
cahaya hidayah menyapa hamba dikala pagi dan petang. Dengan harap yang semu,
kau coba mainkan lidahmu. Tak perduli seberapa keras kritikan menghampiri. Kau
terus tegar menghadapi. Tak perduli sekian juta orang melihat, kau tetap kalap
bermain di naungan logika liberalmu atas agama ini. kau bilang “Semua Agama
Sama !!”.
Jangan Lupa Komennya ya..!!! ^^
Jumat, 14 Desember 2012
Geliat Jaringan Islam Liberal Dari Waktu Ke Waktu (2)
Syahadat on the road - Pasca berdiri pada tanggal 8 maret 2001, Jaringan Islam Liberal (JIL)
mulai disibukkan serangkaian agenda-agenda penting mereka untuk
membumikan garis liberalisasi pemikiran Islam yang sempat booming pada era 1970-an. Tanggal ini pula menjadi saksi untuk pertama kali situs JIL didirikan dengan nama islamlib.com.
Dalam
situs tersebut dijelaskan makna Islam Liberal dalam perspektif JIL
adalah suatu bentuk penafsiran atas Islam dengan landasan: Pertama,
membuka pintu ijtihad pada semua dimensi Islam. Kedua, mengutamakan
semangat religio-etik dan bukan makna literal teks. Ketiga, mempercayai
kebenaran yang relatif, terbuka dan plural. Keempat, memihak pada
minoritas yang tertindas. Kelima meyakini kebebasan beragama. Keenam
memisahkan otoritas duniawi dan ukhrawi serta keagamaan dan politik
(sekularisme).
Jangan Lupa Komennya ya..!!! ^^
Senin, 10 Desember 2012
Geliat Jaringan Islam Liberal Dari Waktu ke Waktu (1)

“HALAL, Tapi Tuhan Tidak Suka”. Judul artikel menggelitik ini penulis dapatkan dari sebuah situs “Islam” tertanggal 6/10/2010. Berkisah tentang sebuah klaim fiqih yang menyatakan murtad bagi
seorang muslim adalah hal lumrah, artikel ini kemudian mengqiyaskan
pemurtadan yang dilakukan tiap mukmin setara dengan kasus perceraian.
Jadi, walaupun halal, tapi Tuhan tidak suka. Begitu maksudnya.
Rupanya, kalimat Lâ Ikrâha fî ad-Dîn dalam Al Qur’an, bagi sang penulis adalah bukti tidak ada paksaan dalam beragama. Keterpaksaan dalam beragama hanya akan melahirkan sosok-sosok labil
yang tidak memiliki dasar filosofis-rasional dalam beragama. Nyaris
mirip dengan memilih Istri.
Bahkan dalam tulisan lain berjudul “Salahkah Geert Wilders?”, seorang
penulis menyatakan bahwa Ayat-ayat al-Qur’an dan hadis cukup banyak
membenarkan pandangan Geert Wilders yang mengatakan Al Qur’an kitab
bar-bar. Di akhir kalimat, sang penulis berujar:
“Orang yang meragukan Fitna Wilders dari sekarang harus menelaah
al-Qur’an, hadis-hadis, dan sejarah Islam dengan akal yang
sesehat-sehatnya.”
Jangan Lupa Komennya ya..!!! ^^
Sabtu, 08 Desember 2012
Seperti Inilah Theosofi Menafsirkan Kata "Allah"
![]() |
| Markas Theosofi Internasional di Adyar, Chennai, India |
Syahadat on the road - MAJALAH Pewarta Theosofi Boewat Tanah Hindia Nederland,
edisi 1921, tahun KA XIV, Bagian No. 2 menelurkan sebuah artikel khusus
tentang Islam. Persoalan ini diangkat karena para pengkaji theosofi
ingin mendudukan makna ajaran Islam seutuhnya.
Di majalah mingguan milik aliran kebatinan Yahudi tersebut,
dijelaskan bahwa kali pertama kekeliruan sebagian kalangan dalam
memaknai Islam, terjadi ketika menafsirkan nama Allah. Hal ini berimbas
pada reduksi manusia dalam memahami sifat-sifat Tuhan. Menurut Majalah Pewarta Theosofi, di balik lafaz Allah / الله
tersembunyi kekuatan alam yang begitu menakjubkan. Sifat-sifat Allah
terebut sudah melekat di dalam nama Allah sendiri berupa unsur-unsur
alam seperti Api, Angin, Air, dan Bumi.
Jangan Lupa Komennya ya..!!! ^^
Kamis, 06 Desember 2012
Kisah Perdebatan A. Hassan Dengan Tokoh Atheis
Oleh, Artawijaya
Syahadat on the road - Gedung milik organisasi Al-Irsyad, Surabaya, hari itu penuh sesat dipadati
massa. Almanak menunjukkan tahun 1955. Kota Surabaya yang panas, serasa makin
panas dengan dilangsungkannya debat terbuka antara Muhammad Ahsan, seorang
atheis yang berasal dari Malang, dengan Tuan A. Hassan, guru Pesantren
Persatuan Islam, Bangil. Meski namanya berbau Islam, Muhammad Ahsan adalah
orang atheis yang tidak percaya bahwa Tuhan itu ada, dan tidak pula meyakini
bahwa alam semesta ini ada Yang Maha Mengaturnya. Ia juga menyatakan manusia
berasal dari kera, bukan dari tanah sebagaimana dijelaskan Al-Qur’an.
Menurut keterangan Ustadz Abdul Jabbar, guru Pesantren Persis, yang
menyaksikan perdebatan itu, hadirin yang datang cukup membludak. Lebih dari
ratusan massa datang berkumpul, mengular sampai ke luar gedung. Mereka
mengganggap perdebatan ini penting, karena Muhammad Ahsan, telah secara terbuka
di Surat Kabar Harian Rakyat, 9 Agustus 1955, meragukan keberadaan
Tuhan. Ia juga menolak keyakinan Islam bahwa orang yang berbuat kebaikan di
dunia, akan dibalas di akhirat kelak. Ahsan berkeyakinan, segala sesuatu
tercipta melalui evolusi alam, dan akan musnah dengan hukum alam juga. Dalam
surat kabar itu, ia menyatakan lugas, ”Pencipta itu mestinya berbentuk.
Tidak mungkin suatu pencipta tidak berbentuk, “tulisnya.
Jangan Lupa Komennya ya..!!! ^^
Selasa, 20 November 2012
Ahdaful Musyarokah
Syahadat on the road - Sejak awal, musyarokah
kita—keterlibatan kita dalam pemerintahan—sama sekali bukan ditujukan untuk
kemenangan zhahir saja yang cenderung diisi dengan al-kibr dan al-kibriya’,
merasa besar dan sombong.
Kita bermusyarokah untuk mencapai kemenangan sejati, yang didefinisikan oleh Imam Ahmad ibnu Hanbal:
ما لازم الحق قلوبنا
Kemenangan sejati yang paling mendasar dan substansial adalah jika kebenaran tetap bersemayam di hati kita. Tidak terkontaminasi oleh racun-racun kehidupan, tidak tergoda oleh iming-iming apapun bentuknya, yang membuat hati kita diisi oleh nilai-nilai lain selain nilai kebenaran yang bersumber dari Allah SWT.
Kemenangan sejati juga adalah jika kita berhasil menegakkan kedaulatan Allah di dalam diri kita. Berhasil menegakkan kedaulatan Allah di dalam keluarga kita. Berhasil menegakkan kedaulatan Allah di rumah kita, di bangsa kita dan di negeri kita. Sehingga orientasi hidup bangsa kita adalah mardhotllah, ridho Allah semata.
Oleh karena itu pertama-tama yang harus kita pastikan adalah ahdaful musyarokah (tujuan-tujuan musyarokah) kita. Jangan sampai berpesong sedikitpun.
Kita bermusyarokah untuk mencapai kemenangan sejati, yang didefinisikan oleh Imam Ahmad ibnu Hanbal:
ما لازم الحق قلوبنا
Kemenangan sejati yang paling mendasar dan substansial adalah jika kebenaran tetap bersemayam di hati kita. Tidak terkontaminasi oleh racun-racun kehidupan, tidak tergoda oleh iming-iming apapun bentuknya, yang membuat hati kita diisi oleh nilai-nilai lain selain nilai kebenaran yang bersumber dari Allah SWT.
Kemenangan sejati juga adalah jika kita berhasil menegakkan kedaulatan Allah di dalam diri kita. Berhasil menegakkan kedaulatan Allah di dalam keluarga kita. Berhasil menegakkan kedaulatan Allah di rumah kita, di bangsa kita dan di negeri kita. Sehingga orientasi hidup bangsa kita adalah mardhotllah, ridho Allah semata.
Oleh karena itu pertama-tama yang harus kita pastikan adalah ahdaful musyarokah (tujuan-tujuan musyarokah) kita. Jangan sampai berpesong sedikitpun.
Jangan Lupa Komennya ya..!!! ^^
Langganan:
Postingan (Atom)





