Senin, 31 Desember 2012

Membangkitkan Budaya Literasi Umat Islam


oleh: Zulfadhli Nasution

Syahadat on the road - Sejarah telah mencatat kontribusi besar para ilmuwan muslim dalam memberikan pencerahan bagi peradaban dunia. Salah satu bukti yang dapat ditelusuri dan tidak bisa dielakkan lagi adalah melimpahnya kitab-kitab ilmuwan muslim dalam berbagai perpustakaan di titik-titik kekuasaan umat Islam seperti Baghdad, Kordoba, dan Mesir.

Terdapat 38 perpustakaan di Baghdad dan 70 di Kordoba. Perpustakaan Darul Hikmah yang didirikan di Baghdad oleh Khalifah Harun ar-Rasyid (149-193 H) setidaknya mempunyai 100 ribu jilid buku dan 600 buah manuskrip. Saking banyaknya, diceritakan bahwa sungai Euphrat menjadi hitam karena kitab-kitab itu dibakar saat Tentara Mongol menyerang Baghdad pada 656 H. Begitupula dengan Perpustakaan Kordoba yang dibangun pada masa al-Mushtansir (350-366 H), tercatat memiliki 600.000 koleksi jilid buku dan katalognya mencapai 44 buku.

Perpustakaan Sabor (383 H) di Baghdad yang didirikan oleh Sabor bin Ardashir, seorang menteri Ibnu Buwaih, menyimpan 1.000 mushaf al-Qur’an dan 10.400 buku dalam berbagai bidang. Di Baghdad, terdapat seratus buah toko buku dan jumlah ulama mencapai 8.000 orang. Perpustakaan Darul ‘Ilm di Mesir yang berdiri pada masa dinasti Fatimiyyin juga sempat menjadi kebanggaan kaum muslimin karena mempunyai koleksi kitab yang banyak dan langka, terdiri dari berbagai tema studi, sekaligus dilengkapi dengan sarana penelitian bagi para ilmuwan.

Jumlah ini bisa dikomparasi dengan Perpustakaan Katedral di Kensington pada abad 9 M (3 H) yang hanya menyimpan 356 koleksi buku dan Perpustakaan di Hamburg yang hanya menampung 96 buah buku saja. Bahkan, Perpustakaan Pusat Prancis di masa Raja Sharl V (abad ke-8 H) baru mampu mengumpulkan lebih 900 jilid buku. 

Dr. Daud Rasyid menyatakan dalam salah satu tulisannya, bahwa hal inilah kiranya yang membuat Dr. Sigrid Hunke, seorang pakar dari Jerman, sekitar tahun 1950-an menulis buku berjudul Allah Sonne Uber Dem Abendland Unser Arabisches Erbe untuk mengakui eksistensi kaum muslimin dalam hal budaya literasi. Begitupun dengan Annemarie Schimmel, seorang orientalis yang karyanya sempat menjadi yang terbaik di Jerman, walaupun mengundang reaksi negatif dari mereka yang sangat subjektif dan antipati terhadap fakta sejarah umat Islam.

Namun hari-hari ini, dimulai sejak mundurnya peradaban Islam di sekitar abad 13 M, kaum muslimin nampaknya berada dalam stagnasi budaya menulis dan dominasi barat menggantikannya. Sekolah dan kampus-kampus, bahkan kampus Islami sekalipun, serasa tidak lengkap bila tidak mencantumkan literatur asing dalam pembelajarannya. Tidak terlalu bermasalah jika literatur yang diambil adalah mengenai hal-hal yang bersifat eksakta dan saintifik. Masalahnya, ada beberapa institusi Islami yang justeru mengambil sumber-sumber studi islami dari Barat yang sudah dipenuhi deviasi dibandingkan mengambilnya dari khazanah turats (warisan klasik) para ilmuwan muslim.

Ini membuktikan bahwa umat Islam bukan hanya kalah dalam persaingan sains semata, bahkan nilai-nilai ideal dalam studi agamanya sendiri telah disusupi oleh para orientalis, baik asing maupun pribumi. Ditambah lagi, umat Islam belum mampu membangun kekuatan massif di ranah media massa, padahal dari situlah opini dan wacana dibangun serta direkayasa oleh berbagai kepentingan. 

Mengapa kemunduruan budaya menulis dalam umat ini bisa terjadi? Penulis menganalisis beberapa faktor yang memicunya. Pertama, kaum muslimin memang “kekurangan bahan” untuk ditulis akibat ketertinggalannya di bidang sains, teknologi, dan pemikiran. Hal ini berbeda dengan zaman kejayaan dulu, yang dipenuhi pula dengan hasil riset ilmuwan muslim dalam berbagai studi. Walhasil, beberapa dari kaum muslimin sekarang hanya bisa menjadi legitimator atas kebenaran sains yang sesuai dengan kaidah al-Qur’an dan sunnah, seperti yang dilakukan oleh Harun Yahya (tanpa mengurangi penghormatan pada usahanya). 

Kedua, belum terinternalisasinya budaya ilmiah sebagai salah satu keluhuran ajaran Islam. Padahal, urgensi ini dijelaskan dalam firmanNya dan hadits RasulNya. Bukankah “Allah meninggikan derajat orang yang beriman dan memiliki ilmu?” Bukankah “seharusnya ada pula golongan yang mencari ilmu saat segolongan yang lainnya berjihad?” Bukankah menuntut ilmu itu wajib, dari buaian hingga liang lahat, bahkan jika harus sampai ke negeri Cina? Atau berkaitan dengan menulis, bukankah “Allah mengajarkan melalui qalam (pena)” dan berfirman pula, “Nun.. demi qalam dan apa yang mereka tulis” Juga terdapat hikmah yang mengatakan, “ikatlah ilmu dengan menulisnya.”

Ketiga, kaum muslimin dijauhkan dengan sejarah kejayaannya, baik melalui berbagai penyimpangan dan rekayasa, maupun ketidakmampuan menggalinya. Berapa banyak di antara umat Islam yang mengetahui bahwa kejayaan peradaban Islam pernah bertumpu pada ribuan ulama yang membukukan pemikirannya dalam ratusan ribu bahkan mungkin jutaan kitab yang dikoleksi dalam ratusan perpustakaan Islam yang juga dekat dengan masjid sebagai pusat aktivitas muslim?

Buku sejarah di sekolah dan kampus-kampus tidak pernah mengungkap fakta-fakta di atas. Justru yang sering diangkat adalah masa Renaisans dengan tokoh-tokoh baratnya. Padahal sebelum masa Renaisans, barat berada di masa kegelapan. Namun demikian, sejarah Islam tetap saja dimarjinalkan dalam teks-teks pendidikan.  

Hal tersebut menjadikan kaum muslimin kini terpotong dengan sejarah kejayaannya dalam budaya literasi dan membuatnya semakin minder dalam kultur ilmiah. Ditambah lagi dengan sedikitnya para cendikiawan muslim yang concern untuk menggali kembali berbagai manuskrip yang ada.

Keempat, secara umum umat Islam sudah termakan dengan gaya hidup yang jauh dari budaya ilmiah, termasuk menulis. Pun, bagi mereka yang sudah mengeluarkan banyak uang untuk sampai ke tingkat perguruan tinggi bahkan pascasarjana sekalipun.

Beberapa faktor di atas kiranya membuat kaum muslimin masih menjadi konsumen di dunia literasi, dan belum mampu memproduksi khazanah literasi sebagaimana dulu kitab-kitab ilmuwan muslim-lah yang menjadi referensi di berbagai bidang studi. Namun demikian, kita patut bersyukur bahwa di Indonesia buku-buku yang bertemakan Islam dan ditulis oleh kaum muslimin sudah banyak diterbitkan. Dalam setiap pameran buku yang diadakan, pasti banyak terdapat penerbit buku-buku islami. Bahkan, sudah terselenggara beberapa kali pameran buku berskala nasional yang itu khusus bagi penerbit-penerbit islami.

Semoga kita tidak berhenti sampai di situ, dan kita harap yang ditulis oleh cendikiawan muslim bukan sekedar wawasan diiniyah saja, melainkan juga wawasan kauniyah, yaitu sains dan teknologi. Untuk itu, faktor-faktor penghambat yang telah diuraikan perlu segera dibalikkan keadaannya.




Jangan Lupa Komennya ya..!!! ^^